Ray Sahetapy: Bangsa Ini Butuh Revolusi

Bagaimana awalnya anda bisa masuk dalam dunia seni?

Awalnya saya ikut teater Natal. Waktu itu diajak sama Roby Latumahina, teman saya dulu. Dia juga yang ngajak ngembangin bakat teater saya di IKJ dan akhirnya saya ikuti. Di sana aku bertemu dengan kebebasan, lebih diajak mengenal siapa diriku, mendapat banyak ilmu. Mulai yang duniawi sampai ilmu-ilmu Ketuhanan, semua ada.

Apa makna teater, menurut Ray?

Teater adalah seni tentang bagaimana mengeksplorasi tubuh dan mengenalinya. Dalam teater kita juga harus memahami pemikiran-pemikiran dari tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya, supaya kita bisa berperan sesuai dengan tokoh tersebut. Teater bagiku tidak harus wah. Teater bagiku adalah sebuah proses penciptaan suatu kehidupan baru, proses penciptaan melalui gerak dan motivasi.

Dari situlah aku bertemu dengan banyak gagasan pemikiran dan lebih terbuka, mulai dari ilmu yang sifatnya duniawi, sampai yang bersifat ketuhanan. Teater telah membawa kebebasan padaku.

Upaya apa yang dilakukan supaya bisa lebih dalam memaknai teater?

Dulu aku sempat bikin teater di rumahku sendiri supaya aku bisa lebih dekat dengan pekerjaan, namanya ‘Teater Oncor’. Aku sering ajak teman-teman kumpul untuk latihan di rumahku, dan bikin pementasan-pementasan kecil. Dari situ aku sampai pada kesimpulan bahwa teater itu intinya mendekat ke penonton, mendatangi mereka, bukan menunggu didatangi.

Anda memang memosisikan rumah sebagai tempat untuk berteater?

Nggak cuma itu, dulu aku juga suka buat lukisan yang unik-unik di tembok. Pada jaman itu aku menggambarkan orang baca koran terbalik pakai sepatu tentara karena kesal dengan kehidupan dan kondisi sosial-politik jaman Orba dulu.

Ray Sahetapy lebih dikenal sebagai aktor film. Bagaimana awalnya sampai bisa main film?

Pas aku lagi mentas ‘Wild Duck’ karya Alm. Wahyu Sihombing, ternyata Nya Abas Akub memperhatikan. Saat itu dia sedang cari pemain untuk film barunya. Waktu itu, Deddy (Mizwar) yang sudah lebih dulu main film bilang kalau aku dicariin sama Nya Abas Akub, sutradara terkenal, katanya. Aku kemudian disuruh datang ke rumah Nya Abas untuk dites. Sampai di sana, ternyata kami malah ngobrol, tidak ada pengetesan pemain seperti yang aku bayangkan. Pas aku tanya apa aku jadi main atau tidak, dia justru bilang kalau tadi itu dia sudah tes saya, dan saya jadi main di filmnya, ‘Gadis’. Dia sangat bersahabat sekali orangnya, salah seorang sutradara terbaik yang dimliki Nusantara ini, ya dia itu.

Sepertinya anda punya kesan mendalam dengan Nya Abas Akub. Lebih karena kemampuannya atau karena keakrabannya?

Saya tidak hanya menganggap Nya Abas sebagai sutradara film, tapi juga sebagai teman, tempat berdiskusi. Persahabatan dengannya sangat dalam, kami sering bertukar pengalaman. Sebagai anak muda saat itu, saya banyak belajar darinya. Kata-katanya yang selalu kuingat, “Bukankah apa di dalam hati hendak terungkap, di mulut jua kata terucap?” Sederhana tapi susah kutangkap kata-katanya. Aku ini orangnya straight to the point, nggak gitu suka dengan kata-kata a la Shakespeare gitu, agak lebay buat aku. Hahaha…

Menurut anda, apa yang memiliki pengaruh besar bagi karir hidup anda?

‘Gadis’. Wah, aku benar-benar banyak belajar tentang dunia film dari situ. Mulai dari perjumpaan dengan Nya Abas, sampai proses keseluruhannya.

Perbedaan apa yang dirasakan saat pertama kali beralih dari teater menuju film?

Kalau di teater itu kita kerjakan segala sesuatunya sendiri. Bikin lampu, kopi, semuanya dikerjakan sendiri. Di film sudah ada pembagian tugas yang spesifik, masing-masing punya beban kerja sendiri-sendiri. Aku sempat merasakan semacam shock culture juga pas ada yang datang suguhkan kopi untukku, agak aneh rasanya. Ada perubahan-perubahan kecil yang harus kita hadapi, kebiasaan-kebiasaan nggak penting yang harus kita buang. Sebenarnya banyak juga yang kurang sesuai dengan aku secara pribadi.

Lewat teater, kebebasan dalam diriku semakin tercurah, imajinasiku semakin liar. Sampai keluar gagasan dari kepalaku untuk bikin pementasan di Penjara, balai-balai rakyat, sampai Rumah Sakit Jiwa. Dalam teater, aku punya kuasa sebagai sutradara. Lewat kekuasaan yang aku punya itu kadang aku ngerasa seperti dekat sama Tuhan. Aku pernah menyutradarai 50 orang gila sewaktu bikin pementasan di rumah sakit jiwa.

Pementasan di Rumah Sakit Jiwa? Bagaimana ceritanya?

Aku kan berprinsip, teater harus menjemput penonton, bukan didatangi. Maka itu saya memilih tempat pementasan di RSJ dengan jemuran pakaian sebagai panggungnya. Tim dokter RSJ sempat menawarkan panggung rumah sakit untuk pementasan, tapi aku tolak. Penjelasannya sederhana, jemuran pakaian adalah tempat dimana mereka melakukan aktivitas harian mereka. Tempat itu familiar, bagian dari rumah buat mereka. Kalau aku ajak mereka main di panggung, bisa lari mereka karena merasa asing dengan panggung. Itu bukan rumah buat mereka.

Tim dokter sempat meragukan pilihanku, mereka minta aku mempresentasikan konsepnya di ruang dokter. Padahal aku nggak pernah pakai konsep tertulis untuk pementasan sebelum-sebelumnya karena, pada dasarnya aku nggak suka dengan teks. Banyak orang terperangkap dengan yang sifatnya tekstual, sementara banyak hal tidak bisa ditangkap dengan pendekatan tekstual.

Anda tidak khawatir main sama mereka?

Nggak! Aku pernah sama-sama nebang bambu untuk keperluan teater sama mereka, lima diantaranya bawa parang. Semua teman-temanku yang datang dari Jakarta kabur, nggak berani. Tapi, aku nggak takut.

Apa yang anda dapatkan dari ‘orang gila?’

Saya belajar banyak dari mereka. Pernah salah satu diantara mereka memijat badanku sambil cerita-cerita. Saya bertanya bagaimana dia bisa sampai di tempat ini. Dia bilang, “Kata orang dikampungku, aku ini ga normal bang. Trus mereka bilang saya gila. Satu kali, dua kali, tiga kali, lama-lama keluarga saya juga bilang saya gila bang. Akhirnya saya dibawa kesini, disuntik, jadi gila beneran bang,” dia bilang begitu. “Bukankah pikiran itu adalah buah dari sebuah realitas,” katanya.

Jadi apa sebenarnya yang buat orang jadi gila?

Orang akan jadi ‘gila’ kalau nggak diperhatikan. Kalau kita sabar memperhatikan, mereka nggak akan seperti itu. Di dunia ini kita udah hidup sendiri-sendiri. Makin banyak orang kehilangan perhatian, menciptakan luka sosial, itu yang buat kita jadi gila.

Anda benar-benar membebaskan diri dan pikiran untuk sampai ke tahap itu?

Iya, dong… Karena curahan kebebasan itulah aku berkarya dan dikenal orang. Melalui hasil karyaku, orang bisa menilai aku, dan aku juga bisa lebih mengenal siapa diriku. Namun untuk mencapai kebebasan itu dibutuhkan totalitas. Kita harus yakin kalau kita total, alam akan mendukung usaha kita. Keyakinan untuk meraih kebebasan itulah yang akan mempertahankan kehidupan itu.

Dengan kebebasan itu juga anda bertemu dengan gagasan tentang Nusantara?

Betul sekali. Aku membiarkan diri menjadi bebas ketika ada bayang-bayang itu. Saat itu banyak orang anti Pancasila, padahal Pancasila sendiri belum diturunkan nilai-nilainya. Aku tidak mau ikut terkontaminasi dengan gagasan luar yang ngetren saat itu. Kemudian bertemu dengan gagasan Nusantara. Nusa adalah tanah dan antara itu adalah air yang memperantarai tanah. Nusantara adalah tanah air. Inti gagasan ini mengajarkan kita untuk menjaga keseimbangan.

Pernah punya keinginan buat pementasan soal Nusantara?

Aku belum sampai ke situ. Kepingin juga sih membawakan beberapa peristiwa yang ada di Nusantara ini. Kapten Yongke dari Sulawesi, Putri Koneng dari Madura, Singamangaraja, Prabu Siliwangi, Pangeran Diponegoro, dan lain-lain. Kita punya banyak tokoh yang sayangnya tenggelam, kemakan oleh nilai-nilai yang berasal dari luar diri kita. Mungkin satu waktu, pementasan soal Nusantara bisa terwujud.

Nusantara itu unik dan kita harus banyak belajar tentangnya supaya lebih tahu soal kehidupan kita sendiri. Misalnya saja, kita punya mantra untuk mengusir hama tanaman dari Jawa Timur. Tapi kita tidak pernah mengolahnya, didiamkan begitu saja. Seolah-olah gagasan itu datang dari setan. Kita lebih bangga kalau bicara tentang ide-ide dari luar, tapi sama sekali nggak tahu soal ide-ide yang berasal dari salah satu sekte di Nusantara ini. Padahal di situ kita tinggal. Cuma kita tidak olah dengan baik sehingga leluhur kita juga tidak bahagia lihat kita.

Anda ingin mengatakan bahwa gagasan dari luar itu tidak baik karena bukan berasal dari Nusantara?

Saat ini semakin banyak orang-orang pintar dari luar datang membawa gagasan-gagasannya. Harusnya ini jadi suatu proses pembentukan suatu karakter baru masyarakat kita. Bagaimana supaya ide-ide luar tersebut bisa sesuai dengan tanah, ruang, dan masyarakatnya, kalau kita nggak punya pemahaman atas Nusantara? Kita kurang pandai mengolahnya.

Kalau gagasan Nusantara kita perjuangkan, aku yakin bangsa ini bisa kembali menjadi bangsa yang besar dan disegani dunia karena kita punya sistem keseimbangan yang telah diberikan Tuhan dalam Nusantara. Tapi karena Pemerintah juga tidak mewadahi gagasan Nusantara untuk muncul, kondisi sosial kita sekarang jadi bobrok karena kita sudah tercerabut dari akarnya. Bangsa ini butuh Revolusi untuk menemukan kembali jatidirinya.

Pemimpin macam apa yang dibutuhkan Nusantara?

Pemimpin yang cerdas berbudaya. Mampu membedakan mana urusan Negara, mana urusan Pemerintahan, dan mengelolanya dengan benar sesuai fungsinya. Saat ini pemimpin kita kurang tegas mengaturnya sehingga tidak bisa ditiru masyarakat. Pemerintah harusnya berupaya mendorong kebudayaan Nusantara tumbuh kembali, upacara-upacaranya bisa berjalan, agar masyarakat tahu segala macam pengetahuan yang terkandung dalam Alam Nusantara ini.

Selain Pemerintah, harusnya para Pendeta, Kyai, yang suka berkhotbah di depan orang banyak, juga bisa memahami gagasan Nusantara. Supaya ketika menyampaikan nilai-nilai Agama tidak semata berdasarkan teks kitab suci, tapi disesuaikan dengan lingkungan di sini. Mereka harusnya banyak memberi contoh dari tokoh-tokoh Nusantara yang sesuai dengan nilai-nilai Agama. Boleh ambil dari teks asing, tapi dianalogikan dengan kultur kita. Supaya ketika kita di rumah-rumah ibadah, kita bisa bangga, bahwa ada orang-orang tua kita yang sejalan dengan ajaran-ajaran Tuhan.

Pernah ada seorang Kyai dari Jawa sampai ngomong sama aku bahwa, Nusantara itu merupakan Wahyu Negara. Dia punya puisi yang aku ingat terus sampai sekarang.

Anak-anak Nusantara bukan pemandu wisata. Mereka adalah penegak panji kebenaran dan menyerukan kemerdekaan atas jiwa raga. Atas hati yang telah lama dijajah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s