Drs. Suyadi “Pak Raden”: Budaya Kita Belum Mengakomodir Antusiasme Anak Muda

Foto: Peter Johan

Foto: Peter Johan

Apa harapan Bapak terhadap acara seperti ini? Harapan saya, Wayang itu jangan sampai punah. Karenanya, kita jangan sampai lupa bahwa, untuk melestarikan (Wayang-red) kita harus mulai dari bawah. Menurut saya, semuanya harus dimulai dari anak-anak, dari sejak dini. Itu yang mendasari saya bikin buku-buku tentang Wayang. Isi bukunya bukan hal yang terlalu serius, karena itu untuk anak-anak. Saya sudah bikin bukunya. Buku-buku dongeng Wayang untuk anak-anak yang belum pernah tersentuh budaya Wayang. Boleh tahu sedikit tentang buku-buku tentang Wayang untuk anaknya? Bisa, tapi tidak akan saya berikan, ya. Hahaa… masalahnya, belum ada yang mau menerbitkan. Saya sendiri, niatnya mau cari orang yeng bersedia membantu supaya buku ini bisa terbit. Buku ini memang diperuntukkan untuk anak-anak yang belum tahu budaya Wayang. Misal seperti anak yang sama sekali belum mengenal tokoh Petruk. Siapakah Petruk itu? Buku ini pada dasarnya sangat instructional. Menurut Bapak, apakah media Wayang sekarang ini sudah cukup terbuka untuk anak-anak? Terus terang, tidak. Tapi ada yang membuat saya senang sekarang ini. Makin banyak anak muda yang menyukai Wayang. Dulu yang suka sama Wayang hanya orang-orang tua saja, tapi belakangan ini banyak anak muda yang antusias terhadap Wayang. Sayangnya, banyak penyelenggara acara yang tidak sadar akan kondisi tersebut. Jadi kurang mampu mengakomodir antusiasme anak-anak muda itu. Cerita Wayang apa yang kira-kira ‘pas’ dengan anak muda jaman sekarang? Banyak, sebenarnya. Misalnya, lahirnya Gatot Kaca dan beberapa cerita lain yang berkisah tentang kepahlawanan. Wayang itu punya banyak kisah tentang kepahlawanan dan cinta tanah air. Model cerita semacam kepahlawanan dan cinta tanah air, apakah masih relevan untuk menarik minat anak-anak muda jaman sekarang? Cerita-cerita semacam itu perlu dibangkitkan lagi dalam kondisi saat ini. Kisah kepahlawanan saya pikir selalu tepat untuk segala jaman dan jangan sampai usang. Cinta tanah air itu harus terus dibangun. Tapi caranya harus bisa menysuaikan dengan perkembangan jaman dan penikmat ceritanya. Wayang dan seni tradisional harus mampu melampaui ini. Pak Raden masih optimis dengan perkembangan Wayang atau dongeng tradisional? Ya. Karenanya saya sekarang sedang bikin buku tentang Wayang yang saya peruntukkan untuk pembaca kanak-kanak dan remaja. Mereka yang menentukan apakah budaya kita mampu bertahan menghadapi jaman atau tidak. ———————————- Pak Raden bukanlah sosok asing dalam perjalanan seni dan kebudayaan Indonesia, khususnya di era 80-90an. Kuatnya sosok Pak Raden bahkan menenggelamkan nama sang penciptanya, Drs. Suyadi. Lulusan Fakultas Seni Rupa ITB (1952-1960) ini pernah merantau ke negeri Perancis untuk belajar animasi (1961-1963). Sejak berstatus mahasiswa, tangannya telah menghasilkan sejumlah karya berupa buku cerita anak bergambar dan film pendek animasi. Tak hanya ilustrasi, Suyadi juga menulis sendiri cerita karya-karyanya. Suatu keistimewaan yang memosisikannya sebagai salah satu pendongeng terbaik yang dimiliki Indonesia. Perbincangan ini diambil saat pembukaan ajang World Wayang Puppet Carnival di Jakarta, awal September lalu. Meski harus didampingi menggunakan kursi roda, pencipta serial legendaris ‘Si Unyil’ ini bersemangat menyambut pembukaan ajang tersebut. Saat ini pun beliau masih bersimbah peluh mengolah karya. Salah satunya, dongeng cerita anak dan remaja tentang Wayang yang tak kunjung bertemu penanggap

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s