Hukuman Mati dan Matinya Moralitas Penguasa

Artikel Franz Magnis di Harian Kompas 13/3/15
Artikel Franz Magnis di Harian Kompas 13/3/15

Artikel ini membuat saya teringat sebuah kisah di kitab suci. Pernah ada seorang Perempuan bernama Maria Magdalena dianggap melakukan tindakan hina di tengah-tengah masyarakat, kemudian dilempari batu karena dianggap telah membawa aib bagi masyarakatnya. Mereka yg melempari batu berkeyakinan, dengan menghakimi sampai mati pendosa seperti Maria Magdalena, maka masyarakat terselamatkan dari dosa. Lalu Yesus datang dan berkata, kira-kira seperti ini, “Barangsiapa di antara kalian yg merasa paling suci atau tidak lebih berdosa dari perempuan ini, lemparkanlah batumu padanya.” Satu per satu mereka lalu pergi. Tak satu jawaban pun dapat mereka berikan atas pertanyaan tersebut. Setelahnya, Maria Magdalena pun menjelma menjadi salah satu pengikut Yesus yang paling setia dan dikenang dalam sejarah. Tak menutup kemungkinan jika mereka yang dieksekusi mati atas kasus Narkoba pun bisa mencatatkan namanya dalam sejarah. Mereka bisa saja menjelma menjadi sosok yang berperan penting dalam peradaban. Satu catatan yang hendak saya tambahkan dalam tulisan ini. Mereka yang dieksekusi karena kasus narkoba, boleh jadi dianggap telah menyebabkan kematian sekian nyawa. Tapi penting untuk diingat bahwa, dalam melakukan aktivitasnya, mereka tidak menipu pembelinya–yang kemudian dianggap korban. Transaksi didasari atas pilihan sadar. Baik penjual pun pembeli menyadari resiko transaksi yang mereka lakukan. Sementara di sisi lain, ada banyak sekali koruptor dan pendompleng pajak yang jelas-jelas menipu rakyat banyak tidak dieksekusi mati. Bahkan para koruptor dan pendompleng pajak itu seakan tak kehilangan kehormatannya, sedikitpun. Apakah ini adil? Baik dari sisi jumlah korban sampai dampak sosial yang ditimbulkannya, koruptor maupun pendomplang pajak jauh lebih buruk daripada bandar narkoba. Tapi para cecunguk korup itu tetap saja duduk sebagai warga negara terhormat, meski jelas-jelas apa yang mereka kunyah tak lebih adalah hasil rampasan dari keringat orang banyak. Pernahkah pemerintah melakukan pertimbangan moral atas keputusan ini? Pada akhirnya, adakah manusia yg memiliki hak untuk mengambil nyawa manusia lain? Artikel Magnis kiranya memberi penegasan atas pertanyaan tersebut. •

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s