Idaman Andarmosoko: ‘User Friendly’ Terkadang Menyesatkan

Idaman
Foto: Diolah dari laman Facebook Idaman Andarmosoko
Beberapa waktu lalu, sempat melakukan perbincangan panjang dengan Idaman Andarmosoko. Sosok yang boleh dibilang cukup dikenal, bagi sebagian orang. Tapi kalau dibilang tidak dikenal pun, benar juga. Emangnya ente siapa, Om? Hahaa …
Satu hal yang bikin saya kepincut mengajaknya ngobrol dalam kotakpandora.com adalah pemahamannya atas knowledge management. Maklum, bangsa ini punya kebiasaan buruk dalam mengelola pengetahuan. Menjadi penting karena, menrupakan masalah besar jika kita berada pada era di mana informasi sedemikain telanjangnya terpampang di depan mata, kesadaran kita dalam mengelola data, informasi, pun pengetahuan, masih jauh tertinggal. Benar begitu? Baiknya, mari menyimak reposting obrolan saya dengan Idaman di kotakpandora.com berikut ini.

——————

Hal yang mempertemukan kita adalah knowledge management (KM). Padahal anda memulai aktivitas lewat jalur IT. Kenapa IT? Dan apa yang membuat anda lebih dikenal di bidang KM?

Knowledege management (KM) berpangkal dari tiga aliran.Pertama, aliran perpustakaan. Banyak orang-orang perpustakaan bergulat dengan subyek-subyek kategori ilmu dan mengelolanya dari mulai membuat abstrak, katalog, klasifikasi, dsb. Lalu mereka sampai pada KM. 

Aliran kedua berasal dari bidang manajemen. Manajemen sendiri mempunyai berbagai bidang, performance management, organisasi, marketing, strategic planning, termasuk juga manajemen SDM, dll, hingga akhirnya sampai pada KM.

Terakhir, IT. Pada tahun 60an,orang-orang IT membangun pengolahan data untuk memahami kebiasaan aktivitas jual-beli yang namanya (sales for casting). Melalui pengolahan data tersebut, kita bisa mengetahui barang apa yang lebih banyak dicari pada tahun mendatang. Rupanya pengolahan data memberi daya ramal yang digunakan untuk memprediksi kemungkinan-kemungkinan di masa depan berdasarkan analisa pengambilan keputusan. Itu kenapa, pengolahan data juga memiliki daya untuk menguak makna melalui analisis terhadap alasan-alasan, kenapa sebuah keputusan diambil. Jadi, kalau saya sekarang berkecimpung dalam bidang KM, itu adalah keniscayaan.

Menarik juga. Sekarang ini KM boleh dibilang sudah menjadi tren. Selain perusahaan bisnis, organisasi non profit seperti NGO juga mulai menerapkannya. Di sisi lain, ketiga ruang yang anda sebutkan tadi juga mengalami perkembangan signifikan. Itu merupakan keniscayaan?

Manusia membangun teknologi yang namanya roda, lalu roda kita personifikasi sebagai sepeda, atau kendaraan. Munculnya kendaraan membuat daya jelajah fisik dan perjalanan menjadi lebih tinggi. Seluruh pengalaman dicatat, lalu dibuat ekstensi perluasan. Ketika otak nggak cukup, kita simpan juga data di buku dengan cara menuliskannya, atau kita bisa menyimpan memori dalam sebuah album foto. Nah, kita punya alat simpan, punya alat untuk menyampaikan, berkomunikasi data dan informasi. Kita punya alat-alat yang mengubah dunia. Kapasitas menyimpan yang dimiliki manusia sekarang jadi sangat besar karena, IT telah membuat komunikasi jadi lebih cepat dan mudah.

Sampai di situ, terjadi pertukaran yang begitu besar pada data, temuan, informasi, bahkan pengalaman dan keterampilan. Manusia bisa dengan mudah menyebarkan berbagai pengalaman melalui blog, mulai dari perencanaan sampai dengan teknis aktivitasnya. Akhirnya, pengalaman dan pengetahuan bisa disebarluaskan dengan mudah. Namun, teknologi ini tidak hanya berhenti pada komunikasi, penyimpanan data, produksi informasi, dsb. Tetapi juga ada hal-hal yang dirubahnya seperti fotografi dan filmografi.

Dulu fotografi musti menggunakan roll film dan melalui proses cuci-cetak. Waktu motret, nggak ada yang tahu hasilnya akan kayak apa. Elo bener-bener musti ngerti fotografi untuk bisa hasilin foto yang bagus. Lalu tiba-tiba berubah jadi fotografi digital yang tidak pake film, instan, bisa langsung dilihat, dan tersedia dalam jenjang kualitas. Mulai dari handphone yang paling ecek-ecek, kamera digital yang biasa, sampai kamera yang sangat canggih, sekarang sudah tersedia. Dulu jumlah orang yang senang fotografi, motret makro, sedikit sekali. Sekarang, kalau kamu punya 50 teman di facebook, jangan-jangan 20 diantaranya sudah mainan SLR. Artinya, skill, competence, and the knowledge of photography menjadi meluas, termasuk publikasi pengetahuan.

Keterampilan fotografi kini bahkan telah kehilangan ‘nilai elitnya’. Masyarakat masa depan akhirnya adalah masyarakat yang mempunyai data dan informasi, mempunyai storage of memories atau pengalaman dan juga berbagai pengetahuan.

Aktivitas orang-orang yang sekarang ini terjebak rutinitas kantor akan mendorong orang untuk mencari aktivitas atau kegiatan lain untuk dia pelajari di waktu senggangnya. Misalnya, ikut komunitas bike to work. Ia juga menjalani proses belajar di sana, mulai dari proses mengendarai, sampai mengamati berbagai kejadian saat mengendarai sepedanya. Atau menjadi backpaker. Dia akan belajar segala sesuatu tentang backpacking, membeli buku, lalu menulis tentang itu. Waktu senggang yang dimiliki seseorang, mengakibatkan dia belajar tentang sesuatu yang baru. Walaupun sesuatu yang baru itu sifatnya bisa jadi hanya senang-senang, tapi ia belajar lewat kesenangan itu. The future community is the learning community.

Menurutmu, teknologi yang membuat segala sesuatu menjadi lebih ringkas seperti sekarang, memangkas sekian proses kreatif gak, sih?

Ada masyarakat-masyarakat tertentu yang masih mempunyai kebutuhan tinggi atas simbol status dan gengsi sosial. Misalnya, media sosial tidak bisa dimaknai sebagai kancah berbagi pengetahuan dan informasi saja, tapi juga wadah identitas. Seseorang menggunakan media sosial untuk memperkenalkan atau menegaskan identitas sosialnya: mobil yang dibawa, makanan yang dicicipi, pesan status yang dikomentari, cara berkomentar, pasang foto bersama Jokowi, Justin Bieber, dan lain-lain. Itu semua adalah presentasi sosial tentang identitas.

Nah, jangan-jangan yang kita lihat sebagai proses belajar bisa jadi bahan bakarnya adalah presentasi sosial. Kalau kamu ingin kelihatan berbudaya, ingin terlihat sebagai pengamat politik, pengamat sosial, orang yang berkepedulian terhadap masyarakat bawah, orang yang progresif sehingga segala sesuatu selalu dihubungkan dengan neoliberalism, misalnya. Ya, update status sesuai dengan presentasi sosial yang ingin dilihat itu saja. Walau bisa jadi juga sebenarnya gak ngerti soal itu semua. Hahaha…

Pakde melihat media sosial hanya sebagai sarana pencitraan individu?

Kalau bahan bakarnya presentasi sosial, bisa jadi yang timbul hanya pencitraan yang instan. Tetapi kalau bahan bakarnya the passion of learning, akan beda lagi. Passion of learning akan bikin orang mengumpulkan catatan perjalanannya sampai bisa bikin buku besar. Misalnya, backpacker yang bikin pengalaman keliling pulau terluar Indonesia.

Pertanyaannya, dimana letaknya teknologi yang rumit nan canggih dengan teknologi yang mudah atau user friendly? User friendly ini kadang menjadi racun yang menyesatkan karena biasa digunakan dalam perdagangan untuk memperluas pasar. Sehingga orang yang gak butuh alat itu sekalipun akan memakainya karena mudah digunakan. Kenapa semua orang pakai iPad, meski kadang gak penting juga buat dia? Karena iPad user friendly. Orang gak perlu belajar untuk gunakan iPad.

Music player jaman dulu punya banyak sekali tombol. Lalu iPod memelopori music player yang cuma punya satu tombol, jadi penggunaannya gak sulit. Lalu disusul berbagai produk lain yang mudah digunakan. Kesesatannya adalah, ternyata ini memengaruhi seseorang dalam merancang sesuatu. iPod memang hanya punya satu tombol, tapi proses merancangnya sangat rumit. Komputer yang operating system-nya berbasis windows atau berbasis grafis juga sangat mudah digunakan, tapi sulit sekali merancangnya. Mudah digunakan bukan berarti mudah dibuat. Kecelakaan anak-anak muda sekarang, kira-kira seperti itu.

Hahaha… Menyoal anak muda. Sekarang ini marak anak muda yang melakukan berbagai gerakan karitatif dengan alasan, mudah dilakukan. Apakah itu juga suatu kecelakaan?

Itu kecelakaan. Orang muda yang ingin melakukan projects mudah, sebenarnya adalah tindakan konsumtif. Kita digiring pada pemahaman bahwa ekonomi di Indonesia adalah ekonomi konsumsi. Pengukuran kita akan kemajuan teknologi di Indonesia adalah pengukuran atas tingkat konsumsi. Berita menyebutkan bahwa, Indonesia maju di bidang IT karena penjualan handphone dan laptop tinggi, pengguna twitter dan facebook meningkat pesat. Padahal yang ditunjukkan di situ adalah tingginya tingkat konsumsi produk teknologi. Sementara, mengonsumsi teknologi bukan berarti suatu kemajuan. Walau bisa saja ada pengaruhnya, tapi tidak determinan. 

Pada tingkat global, perkembangan teknologi komputer sangat tinggi. Rata-rata komputer yang digunakan saat ini kemampuannya 200 sampai 300 kali lipat lebih hebat dari komputer yang dipakai NASA padatahun 60-70an. Dengan teknologi yang 200 – 300 kali lipat tertinggal, NASA bisa meluncurkan orang ke luar angkasa. Sementara kita dengan komputer jauh lebih canggih, pergi ke rumah teman kesasar, nyari alamat gak ketemu. Padahal alat yang kita punya dipasangi GPS. Bandingkan dengan NASA yang mengirim orang ke luar angkasa dan kembali ke bumi dengan selamat, gak pake nyasar. Hahaha …

Lalu miss-nya di mana?

Mungkin kita tidak bisa hanya melihatnya di negara ketiga. Kalau kita mengamati secara global, beda lagi.

Anda mau bilang kalau Indonesia tertinggal pengetahuannya?

Saya kira pintu itu bisa dibuka.

Indonesia memang benar-benar tertinggal?

Hmm… Gak juga. Persoalannya bukan pengetahuan karena sesungguhnya pengetahuan sudah terbuka. Apa yang diketahui seseorang di Amerika Serikat, bisa diketahui juga dari sini hanya dengan googling. Problem bahasa juga bisa diatasi karena alat penterjemah di internet sudah cukup banyak dan lengkap. Perbedaannya terletak dalam mensikapi hasil produksi, dan itu bukan hanya ditentukan oleh hari ini, tapi ada sejarah panjang soal itu.

Kita mengenal nama-nama seperti Bill Gates, Steve Jobs, Steve Wozniack, dsb. Semuanya individu-individu yang punya mimpi ingin memproduksi teknologi sejak muda. Coba bandingkan dengan anak-anak mudakita sekarang, keinginannya ingin memproduksi atau mengkonsumsi? Dia ingin naik pesawat paling mewah atau bikin pesawat paling bagus? Ingin naik mobil termahal atau bikin mobilnya?

Kalau melihat Indonesia, khususnya anak-anak muda sekarang yang cenderung konsumtif. Apa sih yang bikin kecelakaan, Om?

Kebijakan politik kita, tepatnya sejak tahun 1967. Ada sebuah langkah besar yang bisa dilihat di filmnya John Pilger, New Rulers of The World. Di situ Jeffrey Winters menjelaskan sebuah meeting yang dilakukan di Eropa, dimana arsitektur industri Indonesia dibangun oleh pertemuan antara menteri-menteri dengan wakil-wakil dunia usaha. Di situlah desain ekonomi konsumtif Indonesia mulai dibangun. Kita tidak punya infrastruktur, tidak punya industri dasar yang membuat kita mempunyai bangunan ekonomi produksi.

Apakah itu juga menjelaskan bahwa mentalitas dasar masyarakat kita sebetulnya memang konsumtif?

Tidak, konsumsi-produksi itu hubungannya sama industri. Industri muncul setelah terjadi revolusi industri, adanya mesin uap, fabrikasi massal, bermunculannya pabrik-pabrik baja. Konsumsi-produksi muncul ketika ada industri besar-besaran yang dipicu oleh kemunculan mesin-mesin uap. Kancahnya, dunia internasional. Jadi kita gak bisa bilang masyarakat Jawa, Batak, Sunda, dll itu konsumtif atau produktif karena setiap masyarakat memiliki produksinya sendiri. Masyarakat tradisional, semua punya industri pengawetan makanan untuk perjalanan. Mereka punya lemper, ikan asin, keranjang yang dianyam, macam-macam. Peta menjadi berubah ketika industri massal pasca perang dunia kedua.

Kenapa industri metal dan baja bisa lebih masif keberlangsungannya pada saat itu, jika dibanding dengan industri lokal?

Saya nggak terlalu yakin menguasai hal itu. Tetapi mungkin penjelasannya adalah over production sebagai bagian dari kapitalisme.

Ada krisis kapitalisme yang namanya over production. Kemudian ekspansi. Ada orang yang bercerita, industri kapitalisme akan mencapai krisis over produksi sehingga produknya harus dilempar ke negara lain karena pasarnya gak bisa menyerap. Kayak gitu-gitu lah.. 

Bagaimana dengan knowledge? Bukankah pengetahuan juga suatu kapital?

Proses kapitalisasi knowledge itu masih dipertanyakan dan masih jadi perdebatan sampai sekarang. Itu disebut sebagai intangible dan intelectual asset dalam dunia akuntansi. Tapi saya kira itu perdebatan lain lagi. 

Kalau kembali ke perdebatan klasik, masih ada saja yang memperdebatkan antara pengetahuan Barat dengan Timur, menurut anda?

Itu sudah runtuh. Dikotomi Barat-Timur sudah usang di abad teknologi yang modern ini. Kita akan terseret pada, Barat = rasional, ilmiah; Timur = spiritual, mistis. Sementara, pemenang nobel dan ilmuwan Fisika banyak berasal dari India. Bagian paling depan dari ilmu pengetahuan itu Fisika-Teoritik. Jalan yang ditapaki Alber Einstein, Stephen Hawkings, dll. Sementara salah satu tokoh Fisika-Teoritik tahun 2012 adalah Michio Paku dari Asia. Coba buka aplikasi Photoshop atau Corel Draw. Kalau daftar nama yang ada di dalamnya kita freeze lalu print screen, kita bisa menemukan banyak sekali nama Asia seperti nama-nama Cina atau India

Dikotomi hanya terjadi pada fasilitas industrinya. Fasilitas untuk memfabrikasi mikro-elektronika tingkat tinggi hanya ada di Sillicon Valley. Hanya Los Angeles, California yang bisa bikin microchip. Itu bukan dikotomi pengetahuan, tapi dikotomi industri. Itu juga bukan Barat-Timur, tapi San Fransisco, tepatnya. Belahan Amerika yang lain seperti New York, belum tentu bisa bikin.

Jadi soalnya lebih pada will to produce or will to consume, begitu?

Ho-oh.

Kembali ke soal anak muda. Bagaimanapun, masa depan ada di pundak mereka. Ada harapan gak sih, untuk anak-anak muda sekarang?

Harapan itu selalu ada dan dipegang oleh orang-orang muda itu sendiri, termasuk apakah orang-orang tua juga ikut belajar dengan mereka.

Hmm… anggap saja dirimu komentator bola yang diminta memprediksi sebuah pertandingan. Apakah dirimu melihat anak-anak muda sekarang ini bisa membawa masa depan ke arah yang lebih baik?

Tergantung. Sekarang ini ada generasi yang baru masuk SD, SMP, SMA, mulai tahun 2013 ke atas, kita gak bisaberharap apa-apa. Kalaupun bisa, hanya akan sedikit sekali bisa berharap.

Kok bisa?

Kurikulum 2013! Kompetensi inti dari ilmu kimia itu adalah mensyukuri ciptaan Tuhan bahwa, atom itu tertib menurut ciptaan Tuhan. Kamu gak akan menemukan partikel baru dari kurikulum 2013. Gak akan menghasilkan apa-apa.

Lalu, menurutmu masih ada gunanya gak sekolah-sekolah formal di Indonesia ini? Atau jangan-jangan yang dibutuhkan itu sekolah-sekolah non formal dengan metodologi yang praktis berbeda?

Secara teknis akan sangat berat. Saya gak mengatakan bahwa sekolah non-formal itu gak bagus, tapi untuk membangun sekolah non-formal di Indonesia sekarang ini, biayanya sangat mahal. Sekolah formal bisa lebih mewadahi kebutuhan berdasarkan kemampuan masyarakat sekarang. Sekolah non formal bisa saja dilakukan dengan home schooling, tapi aksesnya terbatas pada mereka yang kaya saja. Meniadakan sekolah formal gak adil bagi sebagian besar orang Indonesia.

Tapi lebih gak adil lagi kalau kurikulum 2013 diberlakukan. Itu pasti!

——————————–
Idaman Andarmosoko memulai karir sebagai staf IT diUniversitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Minatnya pada bidang knowledge management membuatnya lebih dikenal pada bidang tersebut. Aktivitasnya kini banyak diisi sebagai fasilitator di berbagai kursus singkat untuk peningkatan kapasitas lembaga terkait knowledge management maupun information management. Bobot bahasan yang disampaikan dalam sekian interaksinya tersebut membuatnya menempati posisi penting di beberapa institusi, baik sebagai konsultan, board of trustees, dan beberapa posisi strategis lainnya. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s