Nusantara Sebagai Nalar Maritim

image

Sekitar 1336 Masehi Tahun Saka atau
1258 M Kalender Romawi, Majapahit melakukan upacara pelantikan Gajah
Mada sebagai Patih Amangkubhumi. Kala itu sang Mahapatih mengungkapkan sebuah sumpah yang tersohor dengan nama Sumpah Palapa. Dalam pelantikannya, Gajah Mada bersumpah untuk menyatukan Nusantara. Berbagai literasi sejarah menyatakan bahwa setelah sumpah itu, Majapahit menjadi sebuah
kekuatan adidaya dengan konsep negara maritim.

Sumpah Amukti Palapa kemudian kerap digunakan sebagai acuan dalam penggunaan
istilah Nusantara yang pada akhirnya lekat dengan nama Indonesia. Kekuatan maritim Majapahit dengan segala kisah kegilang-gemilangan masa lalu tersebut dengan demikian tak bisa dilepaskan dari konsep Nusantara.

Secara etimologis, Nusantara merupakan susunan dua kata yakni, nusa dan antara. Dalam bahasa Sanskerta, nusa berarti pulau atau kepulauan. Sementara antara adalah laut atau seberang. Nusantara dapat diartikan sebagai pulau dan lautan. Di satu sisi bisa dimaknai pulau atau kepulauan yang dipisahkan oleh lautan. Di sisi lain dapat juga disebut pulau atau kepulauan yang diperantarai, disambungkan, atau dipersatukan oleh lautan. Di sini kita bisa melihat perbedaan
yang sangat signifikan saat memaknai posisi laut dalam konsep besar Nusantara. Apakah laut merupakan pemisah kepulauan, atau justru pemersatu?

Jika mengacu pada Majapahit sebagai kerajaan Maritim yang disebut-sebut memiliki kekuatan angkatan laut terbesar kala itu maka, sudah selayaknya Nusantara dimaknai sebagai kepulauan yang dipersatukan oleh laut. Kekuatan utama Majapahit sebagai kerajaan maritim sendiri bertumpu pada armada lautnya. Sedari awal konsepsi Nusantara yang hendak dibangun mengacu pada konsep negara Maritim di mana laut bukanlah pemisah kepulauan, melainkan pemersatu.

Konsepsi kesatuan Nusantara sendiri sesungguhnya sudah ada sebelum Gajah
Mada. Sejarah mencatat pada 1275, Kertanegara, penguasa Singhasari, telah
melahirkan konsep Cakrawala Mandala Dwipantara yang lebih dikenal dengan Dwipantara. Artinya kurang lebih sama dengan Nusantara karena Dwipa dalam bahasa Sanskerta adalah sinonim dari pulau. Kertanegara memiliki wawasan tentang persatuan kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara di bawah kuasa Singhasari.

Menjadikan laut sebagai pemersatu juga inheren dengan konsep Republik sebagai bentuk negara Indonesia. Pembangunan guna penguatan Republik harus memperhatikan betul keseimbangan antara laut dan darat, dengan laut sebagai unsur dominan yang mempersatukan kepulauan. Bahkan perspektif kepulauan itu sendiri sudah seharusnya menjadi penegasan atas budaya maritim mengingat diksi dari pulau adalah daratan yang dikelilingi air.

Selama ini, Nusantara yang belakangan menjadi Indonesia lebih dimaknai sebagai negara kepulauan tanpa menyebut unsur laut sebagai unsur dominannya. Negara kepulauan diambil dari konsep archipelagic state. Dalam Konvensi PBB archipelagic state, diartikan sebagai suatu negara yang seluruhnya terdiri dari satu gugus besar atau lebih kepulauan dan dapat mencakup pulau-pulau lain. Ironisnya,
perspektif dalam memandang pulau di Indonesia lebih didominasi unsur tanahnya
semata dengan meminggirkan unsur air yang pada kenyataannya lebih dominan.

Dalam konsep ke-Indonesia-an dewasa ini, tepatnya sejak Jokowi menduduki tampuk kekuasaan, konsep negara Maritim kembali mengemuka. Dalam KTT Asia Timur di Myanmar 2014 lalu, Jokowi bahkan menegaskan hasrat Indonesia ingin menjadi
poros maritim dunia yang kemudian dikenal sebagai istilah Doktrin Jokowi. Di dalam negeri pun, sang Presiden pun berseru agar kita tidak lagi memunggungi lautan dan samudera. Sebuah permulaan yang bagus untuk membangun kembali sejarah dan budaya asali bangsa ini.

Budaya maritim sudah selayaknya kembali dihidupkan. Selain untuk membenahi benang sejarah peradaban Nusantara, juga untuk mengeksplorasi lebih lanjut kekayaan bangsa yang sebagian besar diisi perairan. Konsep negara maritim juga bisa membangun kembali kultur dasar yang selalu menekankan keseimbangan melalui idiom Tanah Air. Nusantara adalah Tanah Air. Sebuah konsepsi holistik dalam memandang kebangsaan kita, kebangsaan Indonesia. | @marthinsin

Sumber foto: mediakalla.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s