Dalihan Na Tolu: Konsep Demokrasi Peninggalan Leluhur

Tor Tor_dandanhamdani.files.wordpress.com

Suku Batak dikenal akan keunikan adat istiadatnya. Jakob Sumarjo dalam bukunya, Arkeologi Budaya Indonesia menyebutkan, betapa kuatnya ikatan kekeluargaan di Suku Batak. Menurutnya, eratnya ikatan keluarga dalam suku Batak sangat dipengaruhi oleh faktor alamnya. Kondisi alam yang didiami masyarakat Batak mendorong mereka untuk menjalani aktivitas berladang, di mana proses produksinya dilakukan dengan cara berpindah-pindah, tidak menetap di satu area/wilayah sebagaimana terjadi pada pola produksi sawah.

Kebutuhan untuk berpindah-pindah tersebut lebih efektif dilakukan melalui unit kerja yang kecil. Dan unit sosial terkecil yang efektif untuk pola produksi macam ini adalah keluarga. Kondisi tersebutlah yang diyakini membangun kekuatan ikatan kekerabatan dalam masyarakat Batak. Dari sini pulalah konsep kebudayaan Batak lahir yakni Dalihan Na Tolu. Konsep tersebut menjadi fundamen dasar bagi masyarakat Batak. Tak hanya dalam upacara adat saja, Dalihan Na Tolu juga merupakan kewajiban yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari orang Batak.

Dalihan Na Tolu bisa diartikan sebagai tiga tungku. Manusia tak mungkin hidup tanpa makan, dan sudah menjadi kodrat manusia untuk mengolah makanannya yang sekaligus menjadi pembedanya dengan mahluk ciptaan Tuhan lainnya. Tiga tungku merupakan perlengkapan masak sederhana yang lazim digunakan oleh masyarakat Batak terdahulu. Ketiga tungku memasak inilah yang kemudian dianalogikan sebagai relasi sosial yang dijalani oleh masyarakat Batak berdasarkan hubungan kekerabatan. Tiga komponen dalam Dalihan Na Tolu adalahHula-hula, Dongan Tubu, dan Boru.

Hula-hula merupakan laki-laki dari pihak keluarga Istri atau Ibu atau biasa juga dipanggil Tulang. Dalam budaya Batak, posisi ini sangat dihormati. Dari pihak hula-hula lah wejangan diberikan. Bagi masyarakat Batak yang patrilineal ada istilah: Anak do siboan goar, Boru sipatibbo parit ni halak. Anak Laki-laki dianggap sebagai pembawa nama keluarga (yang meneruskan garis keturunan), sementara Perempuan nantinya akan menjadi bagian dari keluarga lain. Pihak keluarga Perempuan mendapat penghargaan tinggi karena pihak Laki-laki telah mengambil anak Perempuannya untuk masuk dalam bagian keluarga Laki-laki.

Dongan Tubu bagi orang Batak adalah pihak se-Marga. Ia bisa diartikan sebagai ‘saudara sekandungan’ dalam Bahasa Indonesia. Dalam pelaksanaan upacara adat, posisi Dongan Tubu tak lain adalah bagian dari pihak penyelenggara adat atau eksekutor. Sebelum acara adat dimulai, orang Batak akan pertama kali mengumpulkan rekan se-Marga, khususnya yang tinggal berdekatan untuk menyelenggarakan prosesi adat. Begitu pula selesai acara, evaluasi terlebih dahulu dilakukan bersama Dongan Tubu sebagai penyelenggara adat. Kerabat se-Marga harus saling terbuka dalam mengutarakan pendapat dan mengutamakan kekompakan dalam menjalankan adat.

Sedangkan pihak Boru dalam adat Batak adalah pihak Perempuan. Dalam adat Batak, posisi ini dipegang oleh pihak keluarga adik/kakak Perempuan dari penyelenggara acara. Mereka berperan sebagai penguasa dapur yang membantu pihak penyelenggara dalam menjamu acara. Segala hal yang berkaitan dengan hal teknis seperti stok dan pelayanan konsumsi, kebersihan dan kelayakan rumah atau tempat berlangsungnya acara, berada di bawah tanggungjawab pihak Boru. Jika Dongan Tubu menentukan kelangsungan pranata adicara maka, pihak Boru bertanggungjawab pada segala hal teknis yang berkaitan dengan kebutuhan tersebut. Pasca keberlangsungan acara, pihak Boru akan memberikan masukan dan kritikan terkait dengan kelangsungan acara.

dalihan na tolu_gobatak_websmall.com
Foto: gobatak.com

Jika ditilik lebih dalam, Dalihan Na Tolu merupakan sebuah sistem kekerabatan yang mengandung nilai-nilai demokrasi di dalamnya. Sebelum Trias Politica dikenal di Nusantara, masyarakat Batak sudah menjalankan sebuah sistem demokrasi kuno yang memiliki kemiripan fungsi. Dongan Tubu menjadi penyelenggara adat mengambil peran sebagai eksekutif yang bertanggungjawab mengambil komando berjalannya adat. Sementara Boru mengambil kedudukan sebagai legislatif, oposisi yang melengkapi dan memberi masukan penyelenggaraan acara. Sedangkan Hula-hula memberikan petuah berdasarkan hukum adat terhadap penyelenggara mengambil peranan sebagai yudikatif.

Menariknya, sistem Dalihan Na Tolu tidak berlaku statis. Setiap orang Batak bisa mengambil ketiga fungsi dan peranan tersebut dalam acara adat yang berbeda-beda, tergantung posisi kekerabatan yang disandangnya dalam sebuah upacara adat. Tidak ada yang hanya selalu mengambil posisi sebagai Hula-hula saja, pun posisi sebagai Boru atau Dongan Tubu melulu. Jika seseorang berasal dari pihak Perempuan di sebuah acara adat maka, ia berposisi sebagai Boru. Begitu pula jika dalam acara tersebut posisinya dalam kekerabatan adalah rekan se-Marga, ia bertanggungjawab sebagai Dongan Tubu. Pun demikian halnya saat ia memainkan peran sebagai Hula-hula. Masyarakat Batak dituntut untuk memahami ketiga posisi tersebut karena dia pasti akan menjalani ketiganya.

Dalihan Na Tolu inilah yang mengikat sistem kekerabatan dalam budaya Batak. Ia berciri dinamis sekaligus saklek dalam pelaksanaan adat. Ketiganya memiliki kedudukan sama penting dengan fungsi dan perannya masing-masing. Sampai sekarang budaya tersebut masih terus dipertahankan, baik dalam upcara adat maupun keseharian hidup suku Batak. Tiap individu Batak wajib memahami hakekat Dalihan Na Tolu melalui semboyan: somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru. Jika diartikan orang Batak wajib menghormati Hula-hula, menjaga keakraban dengan Dongan Tubu, dan mengayomi pihak Boru. Seperti halnya tiga tungku. Ketiganya memiliki peranan penting untuk menopang kuali, wadah di mana makanan sebagai kebutuhan pokok penunjang kehidupan diolah. | Marthin Sinaga

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s